Sabtu, 23 Juni 2012

Meneropong Status Kampung Halilulik: Ibu Kota Desa Atau Ibu Kota Kecamatan?

Halilulik: Nama Sebuah Kampung Kecil
     Halilulik adalah gabungan dari kata Hali yang berarti pohon beringin dan lulik yang berarti keramat. Jadi Halilulik berarti pohon beringin keramat. Pohon beringin yang berbau mitis magis, memiliki makna dan konsep religius tertentu dalam kehidupan suku Tetun di Naitimu (bdk. Halilulik, Naitimu dan Don Bisenti da Costa dalam Halilulik.com.Blogspot.com). Kata Halilulik kemudian diberikan sebagai nama dari sebuah tempat di lokasi di mana sekarang berdiri gereja Paroki Roh Kudus Halilulik. Tempat di mana berdiri gereja Roh Kudus Halilulik itu bernama Halilulik, dan karena itu Paroki ini bernama Paroki Roh Kudus Halilulik. Namun dari segi status tempat, kampung yang bernama Halilulik ini adalah sebuah kampung kecil dari sebuah wilayah besar yang berbentuk kerajaan yang bernama kerajaan Naitimu, sebuah kerajaan yang besar di Belu. Gereja paroki Roh Kudus Halilulik secara resmi berdiri pada tahun 1918. Gedung Gereja Katolik ini didirikan di lokasi kampung kecil yang bernama Halilulik, bagian dari sebuah kerajaan besar yakni kerajaan Naitimu di Belu.
     Secara historis pendirian gereja Roh Kudus Halilulik sangat berkaitan erat dengan sejarah kekristenan di tanah Timor. Evangelisasi Timor menjadi Katolik bermula dari penyerahan Pulau Timor ke tangan Portugis oleh paus di Roma pada tahun 1529 Masehi dan kemudian pada tahun 1555 Masehi misonaris dari Ordo Dominikan tiba di Timor untuk mewartakan Injil Kristus. Mereka berhasil membabtis 5000 orang lalu pulang kembali. Tiga setengah abad setelah penyerahan Pulau Timor kepada Portugis oleh Paus di Roma, paus kembali menyerahkan pulau Timor kepada misonaris Jesuit yang berasal dari Belanda. Para misonaris ini bekerja di Timor Barat dan juga di Timor Tengah seperti Fialaran dan Atapupu, dan melakukan tourne ke Atambua dan Halilulik. Terakhir pada tahun 1916, Paus kembali menyerahkan Timor ke tangan SVD, sebuah serikat misi dari Steyl, Belanda yang didirikan oleh St. Arnoldus Yansen. 
    Nama kampung yang kecil ini menjadi sangat terkenal, ketika pada tahun 1918, didirikan SVD regio Timor yang berpusat di Halilulik dan tak lama kemudian rumah regio SVD Timor menjadi pusat misi suster-suster SSpS Timor di Halilulik, setelah rumah SVD berpindah ke Nenuk. Para Pater SVD dan suster misi menjadi tiang utama dalam pewartaan Injil Kristus di Timor Barat dan kemudian wilayah Nusa Tenggara. Beberapa saat setelahnya mereka mengibaskan sayabnya ke seluruh daratan Timor. Akan tetapi di kawasan Timor Timur, para pater SVD dan suster SSpS membantu para misionaris lain yang sudah berkarya di Timor-Timur.
     Para misionaris SVD dan SSpS kini berkarya dalam bidang kesehatan dengan sebuah Rumah Sakit Halilulik, pendidikan dengan SMP HTM dan SMA HTM Halilulik. Tenaga imam ini sudah mulai diserahkan kepada para imam projo keuskupan. Sebelumnya, kampung Halilulik menjadi tempat berdirinya satu-satunya sekolah zaman Belanda yakni Standardschool Halilulik, di mana bersekolah putera-putera pemimpin pribumi dari Timor. Jadi lembaga-lembaga pendidikan, biara SSpS dan Regio SVD, lembaga  kesehatan serta lembaga gereja telah menggunakan nama sebuah kampung yang kecil di sebuah bekas kerajaan tua Naitimu menjadi sangat terkenal, lebih terkenal dan populer dari nama "atasan" dari kampung kecil Halilulik sendiri yakni kerajaan tua suku Tetun Naitimu. Jadi Allah menggunakan sesuatu yang kecil dan tersembunyi, yang tidak diketahui, yang dianggap sepele untuk mendirikan kerajaaNya. yang kecil, yang rendah hati, yang dianggap sepele, yang dianggap tidak berguna telah dipergunakan Allah untuk menjadi batu penjuru. Kitab suci berkata, "Batu yang dibuang oleh para tukang bangunan telah menjadi batu penjuru..."

Halilulik Bukan Ibu Kota Desa Naitimu dan Bukan Ibu Kota Kecamatan Tasifeto Barat
     Membaca dan mengerti arti dari nama kampung kecil yang berasal dari bahasa suku asli Tetun, Naitimu, maka sejak tahun 1998 hingga tahun 2010, saya sering bolak-balik mencari informasi kepada para tetua suku Naitimu yang masih hidup, Misalnya Ama Tuas Mau Paulus dari Moro, Ahun dan Ama Tuas Leki dari kampung Nanaerai dan juga pernah bersama Ama Tuas Yoseph Nahak, sesepuh kepala desa Naitimuyang tinggal di pasar Lama Halilulik. Saya bertanya tentang sejarah kampung kecil ini, juga sejarah tentang kerajaan tua Naitimu. Dari informasi para tetua suku Naitimu dan sesepuh desa ini, saya yakin bahwa saya dapat memperoleh informasi tentang Naitimu dan Halilulik, mengingat bahwa mereka merupakan kepala suku-suku  tua Naitimu. Dari mereka saya dapat tahu bahwa sesungguhnya Halilulik adalah nama dari sebuah kampung kecil dari keseluruhan kerajaan Naitimu yang besar, yang berpusat di perbukitan Nanaet-Dubesi.
     Sekarang ini kampung Halilulik merupakan sebuah kampung biasa dengan kepala kampungnya adalah Dominikus Luan, yang bukan berasal dari suku Tetun, namun dia berasal dari suku Marai. Sebelumnya kepala kampungnya adalah Bapak Alm. Emanuel Lau, yang berasal dari suku asli Naitimu. Sedangkan 2 kepala kampung yang sekarang yakni Martinus da Costa dan Dominikus Luan bukan berasal dari suku Tetun Naitimu. Mereka berdua berasal dari suku Marae yang lama tinggal di wilayah kampung Halibaurenes, sebuah kampung yang bertetangga dengan kampung Halilulik.Wilayah kampung Halilulik menjadi terkenal kala itu, mungkin saja karena di kampung ini terletak rumah raja Naitimu, alm. Raja Fransiskus Manek dan penggantinya alm. Raja Baltasar Siri. Namun sebelum kedua raja itu, terdapat satu raja Naitimu sebelumnya yang juga berdiam di sekitar Halilulik, di kampung Nanaerai. Raja Naitimu itu bernama Don Bisenti da Costa. Pada tahun  1918, ketika para misionaris bermaksud mendirikan sebuah gereja Katolik, Raja Don Bisenti adalah raja Naitimu yang menghibahkan tanah kepada misionaris SVD.
     Sekarang ini, letak kantor desa Naitimu bukan di Halilulik, namun letaknya di sebuah dusun atau kampung lain yang bernama Nusikun, beberapa meter dari kompleks SDN Nusikun, dekat jalan jalur tarans Kupang-Atambua. Maka boleh dikatakan kampung Nusikun merupakan ibu kota desa Naitimu, bukan kampung Halilulik.Di kampung Nusikun terletak sebuah markas Batalion TNI, di depannya terdapat sebuah bendungan/DAM. Meskpun markas Batalion TNI terdapat di kampung Nusikun, desa Naitimu, bukan kampung Halilulik, namun markas tentara itu merupakan tempat tinggal tentara yang telah berkeluarga dan belum memiliki rumah sendiri. Juga tempat tinggal perwira tentara bersama keluarga dan yang masih bujang. Sedangkan Pos jaga tentara sendiri terdapat di sebuah kampung yang lain yang disebut kampung Lookfau, karena itu disebut Pos TNI Lookfau. Tetangga kampung Lookfau adalah kampung Nanaerai dan tetangga dari kampung Nanaerai adalah kampung Lambau dan kampung Asukar. Kedua kampung ini sering digabungkan saja dengan nama kampung Laskar atau singkatan dari kampung Lambau-Aisukar. 
     Pada sekitar kampung Laskar terdapat perkampungan tua dan pekuburan tua, rupanya pekuburan tua ini adalah milik atau merupakan leluhur suku-suku asli atau suku tua Naitimu. Saya pernah menyelusuri pekuburan tua ini, yang terdiri atas tumpukan batu hitam. Yang terletak di atas perbukitan, tanpa nama. Karena tanpa nama, maka sering orang menyebutnya dalam bahasa Tetun-Terik, Rate kwarak atau Kwarak Raten terjemahan dalam bahasa Indonesianya Rate= kuburan, Kwarak=orang kebanyakan, rakyat biasa, abdi bangsawan. Ini adalah kuburan dari orang-orang kebanyakan, rakyat biasa, abdi bangsawan dari suku-suku tua yang telah ada dan menetap sejak lama di perkampungan ini. Bisa jadi kuburan itu berisi orang-orang atau suku yang berasal dari luar, para abdi bangsawan Naitimu, orang yang belum dipermandikan atau juga yang sudah dipermandikan. Sulit untuk memastikan secara tepat asal, nama dan sejarah orang-orang yang dikuburkan di atas perbukitan itu karena tidak ada nisan atau nama yang dituliskan pada masing-masing kubur tua itu. Kita hanya menduga dari namanya Rate Kwarak berarti kuburan dari orang-orang dari suku-suku asli suku Tetun Terik dari wilayah kerajaan Naitimu.
     Di sisi lain dari gerbang kampung Laskar, bila kita masuk melalui lapangan sepak bola paroki, kita menemukan sebuah sungai yang selalu mengalirkan air jernih meskipun pada musim kemarau. Air sungai ini sangat bermanfaat bagi penghuni kota atau desa Naitimu penghuni biara susteran, pastoran, asrama, kampung Halibaurenes, kampung Halilulik, Laskar hingga kampung Salore. Ini adalah sungai yang bernama Wekakuk. Sumber air Wekakuk menjadi sumber air yang bagus untuk pertanian dan peternakan. Terlebih untuk kebutuhan MCK=makan-minum, cuci dan kakus. Kalau dari lapangan sepak bola, anda hendak menyeberang ke kampung Laskar, anda akan menyeberangi sungai Wekakuk tersebut melalui sebuah DAM atau lebih tepatnya kolam yang dalam. Kolam atau DAM itu disebut masyarakat sekitar adalah Kolam Agus.
     Nama kolam Agus ini untuk mengenang Alm. Agustinus Tisera, yaitu kakak Laki-laki dari alm. Pater Prof Dr. Quido Tisera, SVD yang meninggal karena tenggelam ke dasar kolam ini, ketika sedang mandi dan mencuci pakaiannya di bibir kolam/DAM. Ceriteranya seperti begini: Pada waktu itu air kolam dan air sungai Wekakuk sedang melimpah ruah. Maka kelimpahan air ini menjadi sebuah kesempatan untuk Agustinus Tisera memanfaatkannya untuk mandi dan cuci. Jarak rumahnya dengan kolam itu ternyata cukup jauh, yakni sekitar 600-700 meter. Setelah mandi, beliau bermaksud akan mencuci pakain-pakaiannya yang kotor di tepi kolam/Dam yang sementara mengalir deras. Namun sentara mencuci tersebut, tiba-tiba sebuah pakaiannya hanyut di bawah arus air menuju ke kolam tersebut, sebuah kolam yang dalam. Alm Agustinus Tisera dan adiknya alm. Pater Quido Tisera, SVD adalah termasuk keluarga raja Naitimu dari ibu mereka. Ibu dari ke dua alm. ini adalah adik dari isteri Raja Fransiskus Manek (Permaisuri Raja Frans Manek bernama Maria Samara). Karena itu mereka tergolong sebagai keluarga raja Naitimu dari pihak ibu dari alm. Pater Quido Tisera, SVD.
     Rupanya beliau bermaksud mengambil pakaian yang di bawah arus air yang masuk ke dalam kolam yang dalam, dengan cara melompat atau berjuang dengan cara masuk lebih ke dalam air kolam yang dalam tersebut. Namun karena beliau tidak mampu berenang, dan lagi pula bahwa pada waktu itu, tidak ada seseorang pun yang menolong dia atau berada bersama dengan beliau maka beliau akhirnya tenggelam ke dasar kolam atau DAM tersebut. Pakaiannya yang terletak di bibir kolam menjadi petunjuk bagi orang-orang yang menaruh curiga bahwa mungkin beliau telah berada di dasar kolam, tenggelam. Maka beberapa orang segera menyelam ke dasar kolam dan akhirnya menemukan beliau telah sekarat. Usaha orang untuk mengeluarkan air dari lambungnya sia-sia dan beliau kemudian meninggal dunia. Itulah sebabnya kolam itu sampai sekarang disebut orang kolam Agus, untuk mengenang meninggalnya Agustinus Tisera, kakak dari alm. Pater Quido, yang meninggal dunia karena tenggelam di dasar kolam tersebut. Kolam tersebut hingga kini masih berfungsi dengan baik, kolam itu masih memiliki air yang dalam dan arus yang deras bila musim hujan tiba.
     Setelah itu anda terus berjalan menyelusuri pekuburan katolik di belakang gereja Halilulik, ada asrama putera paroki dan pastoran Halilulik. Pada pekuburan Katolik di belakang gereja tersebut anda bisa menyaksikan kuburan beberapa bangsawan Naitimu yang dimakamkan disitu yakni alm. Raja Fransiskus Manek dan keluarganya atau juga anak-anaknya. Alm. Raja Fransiskus Manek diberitakan dalam menjalankan pemerintahannya dibantu oleh seorang saudaranya yang bernama Prince Vincentius Atok yang selanjutnya disebut Nai Adat Naitimu.
     Ini cukup menarik! Bahwa model pemerintahan kerajaan yang mengikutsertakan seorang Nai Adat merupakan model pemerintahan kerajaan yang dapat ditemukan pada hampir semua kerajaan di wilayah Tasifeto. Nai Adat dianggap sebagai co-Raja (Raja Kedua) setelah Raja Fransiskus Manek, sebagai Raja Pertama. Artinya Nai Adat juga memegang pemerintahan adat sebagai pemutus keputusan dalam adat istiadat, hak mengadili masyarakat bila muncul problematika masyarakat, dll. Bila Raja Naitimu berhalangan hadir, maka Nai Adat bisa mewakili Raja dalam urusan Adat. Kedudukannya hampir sama dengan Raja Naitimu, karena itu Nai Adat tergolong dalam kalangan keluarga Raja dekat (saudara Raja Naitimu) atau bangsawan Naitimu. Namun sepeninggalnya Raja Fransiskus Manek, rakyat Naitimu merasa kesulitan dalam penggantian Raja Naitimu, pengganti Raja Frans Manek. Dalam sejarah dikatakan bahwa Raja Frans Manek hingga meninggal dunia tetap menyatakan berpihak pada Belanda karena situasi yang rumit, di mana Jepang telah menguasai wilayah Naitimu dan membuat Raja Naitimu dan rakyatnya sengsara. Bila dibandingkan dengan Belanda yang memberinya gaji dalam penandatangan Plakat Pendek, sebuah gaji dan tunjangan yang bagus pada masanya. Namun Jepang tidak memberi apapun malah menuntut macam-macam pada rakyat dan raja. Ini yang membuat Raja Frans tetap berpihak pada Belanda hingga mangkatnya di Halilulik, Naitimu. Diceriterakan bahwa ada 3 orang yang dicalonkan menjadi Raja Pengganti Raja Frans Manek, yakni:

1. Prince Vincentius Atok,
Semasa Raja Frans Manek, beliau merupakan Nai Adat Naitimu. Beliau disapa sebagai Nai Ikun Matas. Prince Vincent Atok merupakan saudara Raja Frans Manek. Orang tua keduanya tinggal di kampung Buitasik. Sehingga seringkali mereka berdua tinggal di Buitasik, sambil dari sana terus memerintah kerajaan Naitimu. Putera tunggalnya adalah Prince Yoseph Manek, mantan Sekwilda Dati II Belu dan mantan ketua DPRD Kab. Belu, yang memilih Kolonel (Inf) Ignasius Sumantri menjadi Bupati Belu ketika itu. Prince Yoseph Manek menikah dengan Princess Antonia Laurens Taolin, puteri raja L.A.N Taolin, Raja Insana dan dikaruniai beberapa putera dan puteri. Putera tertuanya adalah Prince Vincentius R Manek

2. Prince Siprianus Ulu Manek,
Prince Ulu Manek adalah putera tertua Raja Frans Manek. Semasa kekuasaan Jepang beliau merupakan Perwira (Letnan) Heiho tentara Jepang (Chudanco). Setelah Jepang menyerah beliau menjadi sekretaris (juru tulis) Raja Lakekun. Prince Siprianus Ulu Manek menikah dengan seorang puteri Raja dari kerajaan Fatumea (sekarang Timor Leste) yang bernama Princess Bete Kae Bauk. Puteri Raja ini dipikul oleh rakyat Naitimu hingga ke Naitimu, namun tidak lama kemudian keduanya bercerai. Sang Puteri dikabarkan kembali ke rumah orang tuanya. Hingga masa tua Prince Siprianus Ulu Manek tinggal di Kefamenanu dan ketika beliau sakit keras, beliau diusung kembali ke Halilulik oleh keluarganya. Beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah Princess Martina Ikun (mantan guru dan kepsek SDK Halilulik) saudarinya di rumah dekat bekas kediaman Ayah mereka Raja Frans Manek. Beliau memiliki seorang putera dari Princess  Bete Kae Bauk, ketika acara pemakamannya dikhabarkan putera Prince Sipri Ulu Manek dengan Princess Bete Kae Bauk sedang berada di Australia. Selain itu, beliau tidak memiliki isteri dan anak hingga mangkat. Raja Frans Manek memiliki 2 permaisuri, masing-masing memiliki anak. Dari permaisuri pertama beliau memiliki putara dan puteri, putera tertua yang bernama Prince Siprianus Ulu Manek. Dari permaisuri yang terakhir, Raja Frans memiliki seorang Princess.

3. Prince Baltasar Siri,
Beliau, seorang calon Raja dari Manleten-Dafala. Bertahun-tahun, Prince Baltasar menjadi guru Sekolah Rakyat (SR). Beliau memiliki gaji sebagai guru pemerintah. Prince Baltasar Siri didatangkan sebagai calon untuk menetralisir ketidakpuasan rakyat Naitimu akibat kerjasama Raja Fransiskus Manek dengan penjajah Belanda yang sangat menekan rakyat Naitimu. Akibat perjanjian Plakat Pendek, rakyat mengalami penderitaan lahir dan bathin akibat kewajiban menjaga rumah raja, pajak kepala, pungutan penjegalan hewan, tuak, perjudian, madu dan lilin dan kewajiban bekerja di kebun raja. Dallam diri Prince Baltasar ini, rakyat Naitimu ingin menikmati zaman kemerdekaan, bebas dari kolonialisasi. Memang beliau adalah raja terakhir dari kerajaan Naitimu setelah Belanda mengakui kemerdekaan RI dan masa kolonialisasi dicabut tahun 1950. Beliau terpilih menjadi Raja Naitimu mengalahkan kedua calon yang lain. Beliau meninggal tahun 2001 di kediamannya, lingkungan Lookfau, Halilulik dalam usia 88 tahun. Raja Baltasar memiliki rumah Raja Naitimu yang dibangunnya setelah beliau dilantik jadi Raja Naitimu. Beliau memiliki seorang putera namun telah meninggal dunia dari hasil pernikahannya dengan permaisuri Ratu Maria da Costa. Prince tersebut telah memiliki isteri dan memiliki juga putera laki-laki.
     Diceriterakan bahwa dalam pemilihan di kampung Buitasik, dekat rumah orang tua Raja Frans Manek dan Nai Adat, Prince Vincentius Atok, masyarakat Naitimu memilih dengan cara menjatuhkan biji jagung ke tiga kotak suara yang masing-masing tertulis nama seorang calon. Dalam pemilihan itu, telah dihitung bahwa Prince Baltasar Siri memperoleh biji jagung terbanyak, dan dengan demikian terpilih menjadi Raja Naitimu, pengganti Raja Fransiskus Manek. Pesta pengukuhan Raja Baltasar berlangsung meriah dengan pesta adat selama beberapa hari. Raja Baltasar Siri (Nai Guru) bersama permaisurinya telah meninggal dunia tahun 2001 dan dimakamkan di belakang gereja paroki Halilulik, berdekatan dengan Raja Fransiskus Manek dan keluarganya, Nai Adat, Prince Vincentius Atok dan ibu, juga terdapat makam keluarga bangsawan yang lain, seperti Raja Yoseph Atok Nanaet/keluarga. Setelah beberapa saat Raja Baltasar Th. Siri mangkat, tidak lama kemudian permaisurinya, Ratu Maria da Costa ikut mangkat dan dimakamkan di samping makam Raja Baltasar Th. Siri di belakang gedung gereja paroki Halilulik.
     Di samping makam, di atas sebuah perbukitan kecil anda boleh mengunjungi gua Sta. Maria Lourdes yang indah dan sejuk. Di dalam gua Maria Lourdes, yang dibangun pada masa kepemimpinan Alm. Pastor Vincent Besin, sebagai pastor paroki Halilulik itu, mengalir sumber air yang tak pernah kering dari sumber air Wekakuk untuk mengingatkan manusia akan peristiwa penampakan Sta. Maria di Lourdes, Perancis. Air itu biasanya diambil para peziarah untuk diusapkan ke penderita penyakit, dan berharap agar terjadi mukzizat penyembuhan. Gua Maria yang sejuk, tenang dan sangat tampan untuk berdoa dan bermeditasi pribadi atau kelompok.
     Di sisi lain dari gerbang kampung Halibaurenes terdapat sebuah sungai yang bernama sungai Balaunoku. Nama Sungai Balaunoku berasal dari 2 kata bahasa tetum Naitimu yakni kata Balau dan kata Noku. Kata Balau adalah sebutan untuk menyebut nama sejenis binatang hutan yang kini sudah punah. Balaunoku artinya nama bintang Balau yang sementara berendam di lumpur di pinggir sungai. Diperkirakan binatang Balau itu merupakan sebuah binatang berkaki empat yang suka berendam di lumpur dan sering diburuh manusia dan akhirnya menjadi musnah. Atau jenis binatang ini sudah menjadi musnah setelah terjadi seleksi alam. Bisa saja Balau merupakan nama dari sisa hewan purba yang pernah hidup dan berendam di kubangan lumpur sungai yang sejuk, karena orang menemukkan banyak binatang Balau yang berendam lumpur di pinggir sungai, maka sungai ini disebut sungai Balaunoku. Menurut penelusuran kata Tetum yang kami ketahui hingga saat ini, jenis binatang Balau memang sudah tidak ada lagi. Sejak kapan jenis binatang ini menghilang dari kehidupan sangat sulit untuk ditelusuri. Mungkin saja habitat hewan Balau memerlukkan kesejukkan lumpur sungai untuk mendinginkan darah panasnya. Berarti binatang ini kemungkinan hidup ketika pemanasan suhu bumi masih normal dan air sungai ini melimpah ratusan atau ribuan tahun yang lalu. .
     Memang kalau kita meneliti tekstur sungai ini, nampaknya merupakan sebuah sungai bekas sungai purba ribuan tahun yang lampau. Letaknya menyerupai sebuah cekungan diapit bebukitan yang ditumbuhi hutan lebat. Hutan-hutan di sini, dahulu penuh buah-buahan seperti koke, jambu, buah kusambi, buah sirsak China, dan masih banyak hasil hutan lainnya. Sejak kecil kami sering ke hutan ini, untuk mencari kayu bakar atau memetik buah-buahan hutan, atau juga sayuran hutan. Hutan ini membentang luas tanpa penghuni hingga ke wilayah Timor leste. Di rimba raya ini, kami sering berpapasan dengan para gembala sapi atau pembuat kebun atau bahkan para penyamun yang melarikan hewan curian untuk disembunyikan ke dalam gua-gua di dalam rimba raya ini. Bila kami pergi ke hutan ini, serasa kami sangat bergembira ria, menelusuri pepohonan yang sejuk dan penuh hasil hutan.
     Di samping sungai tersebut masih ada sungai yang lain disebut sungai Wekfiruk. Di tempat ini, anda menemukan tempat pembuatan batu merah, bagi semua kebutuhan pembangunan rumah di Belu. Batu merah di sini, dibuat dari tanah liat yang digali di bibir sungai. Tanah liat itu dicampur dan dihaluskan dengan menggunakan pacul dan dibuat menjadi seperti adonan roti lalu di masukkan ke dalam cetakkan. Setelah dicetak, hasil cetakkannya dijemur hingga kering dan dihitung sampai 1000 kemudian dijual kepada para pemborong untuk di bakar.
     Pembakaran batu merah bisa mencapai 10.000 buah dan hasil penjualannya jauh lebih mahal dari pada bila batu merah dijual dalam kondisi mentah. Namun pembakaran batu merah sendiri, sangat mahal, menghabiskan banyak tenaga dan biaya. Namun bila dijual setelah dibakar menjadi merah, maka harganya akan jauh lebih mahal.    
     Sekarang ini letak kantor kecamatan adalah di kampung Kimbana, sekitar 1,5 km dari kampung Halilulik. Maka dengan sendirinya ibu kota kecamatan Tasifeto Barat adalah Kimbana. Kimbana adalah sebuah kampung kecil, yang merupakan bagian dari desa Bakustulama. Di kampung Kimbana juga berdiri sebuah SMA Negeri yang besar yang bernama SMA Negeri Kimbana, juga beberapa meter dari situ, berdiri sebuah SMP Negeri Kimbana dan beberapa SD Kimbana. Ini yang membuat saya heran. Mengapa nama Kimbana lebih terkenal dari Bakustulama? Padahal Kimbana adalah sebuah kampung kecil dari sebuah desa yang besar yang bernama desa Bakustulama. Ini yang menarik perhatian saya. Nanti akan saya jelaskan mengapa hal itu bisa terjadi? Kampung Halilulik juga merupakan sebuah tempat di mana terletak Pos polisi Sektor  Halilulik. Saya pikir tidak menjadi masalah karena kampung Halilulik merupakan bagian dari kecamatan Tasifeto Barat yang beribu kota di Kimbana (dahulunya kampung Kimbana, kini ibu kota kecamatan Tasifeto Barat).Karena Polsek itu terletak di wilayah kampung Halitoko, namun disebut Posek Halilulik, padahal jarak antara Polsek itu dengan kampung Halilulik cukup jauh dan lagi pula kompleks Polsek tersebut terletak di lokasi kampung Halitoko.
     Namun letak pusat kegiatan agama, kesehatan baik RS swasta mapun negeri,  terletak di halilulik yang merupakan bagian dari kecamatan Tasifeto Barat. Kini arus manusia, barang dan jasa menjadi ramai menuju ke Halilulik setiap harinya. Di kecamatan Tasifeto Barat terdapat 2 buah pasar yang selalu beroperasi setia hari, yakni pasar lama yang terletak di kompleks pasar lama dekat kampung Halilulik yang beroperasi setiap hari dan pasar baru yang terletak di kampung Halitoko, yang beroperasi setiap hari kamis. Mulai jam 06.00 pagi terlihat aktivitas manusia yang sangat signifikan di Halilulik. yakni di gereja, di sekolah-sekolah, di Rumah sakit, Puskesmas, desa, di pasar-pasar dan seterusnya. Aktivitas manusia ini menandakan terjadinya dinamika manusia dan arus pergerakan manusia, barang dan jasa yang mulai tinggi di Halilulik, Kecamatan Tasifeto Barat, Belu, NTT.

Pemenuhan Kebutuhan Pokok
     Perumahan masyarakat Naitimu pada umumnya sudah mulai terbuat dari bahan dasar seng, lantai sement dan tembok. Beberapa rumah masih menggunakan dinding bebak yakni dinding yang diambil dari daun pohon lontar yang banyak bertumbuh di pulau Timor. Masyarakat asli suku Tetum ada yang masih tinggal di rumah-rumah adat berbentuk panggung beratap ilalang, tinggal bersama keluarga besar dalam rumah-rumah asli berbentuk panggung. Mereka makan nasi dari beras dengan sayur dan daging atau ikan, nasi jagung/jagung dan umbi-umbian. Pakaian masyarakat asli sangat sederhana. Pria menggunakan kain yang diikat dengan menggunakan ikat pinggang, kelewang, kakaluk sirih pinang selalu melekat di bahu mereka, atau rokok bagi pria. Bagi laki-laki kain yang diikat pada pinggang bisa saja adalah kain lipa yang dijual di toko atau kain tenun. Demikian pun wanita memakai kain ikat tenunan atau kain lipa yang dijual di toko-toko. Masyarakat asli di sini selalu berbicara dalam suara yang kuat sekali. Bila mereka sementara tidak cocok maka terlihat mereka terus bertengkar atau Toemalu dengan menggunakan bahasa Tetun. Ema Toemalu atau orang bertengkar berarti saling berdebat dengan nada kemarahan dan suara yang kuat dan keras, sehingga orang-orang sekampung pada datang menonton. Kadang-dangan toemalu bisa berlangsung berjam-jam lamanya tanpa henti, hingga masalahnya diurus oleh kepala kampung atau polisi. Saya mencatat bahwa kecenderungan kurang bagus  toemalu ini sudah cukup melekat pada masyarakat suku Tetun Tasifeto. Bahkan di sekitar kampung Halibaurenes, Nanaerai dan Laskar sering kali orang tua baik wanita dan lelaki sering terlibat toemalu berjam-jam. Banyak alasan membuat mereka melakukan toemalu dan sering atau kadang-kadang berakhir dengan perkelahian dan tentunya harus diadili oleh kepala kampung. Bila para lelaki atau wanita kampung melakukan toemalu karena telah minum arak atau tua yang dibuat dari sedapan pohon enau atau arak yang dimasaknya sendiri, maka situasinya menjadi begitu kacau dan ribut untuk seluruh kampung.
     Bila kepala kampung menemukan persoalan ini, maka dia sering memanggil kedua belah pihak yang terlibat toemalu untuk menjelaskan persoalan mereka. Lalu berdasarkan pertimbangan keadilan dibuat acara perdamaian yang biayanya ditanggung lebih banyak kepada orang yang bersalah. Besarnya tanggungan itu bisa berupa hewan babi atau sapi, ditambah dengan beras dan sejumlah uang untuk kepala kampung dan tetua kampung.
    Kepala kampung dan staffnya sering menjadi hakim dan pendamai bagi masyarakat sekampung. Besarnya biaya diberikan kepada kedua pihak yang bersengketa, sebagai pungutan dari kepala kampung tersebut. Ada banyak masalah yang biasanya diurus oleh kepala kampung, seperti masalah perzinahan, perkelahian, salah kata-kata atau sikap dll. Aturan untuk denda sudah ditetapkan dan diketahui oleh kepala kampung berdasarkan ketetapan adat.

Penutup
     Kesimpulan saya tentang tema ini adalah Halilulik bukanlah sebuah ibu kota desa. Halilulik bukanlah sebuah ibu kota kecamatan. Halilulik hanya merupakan sebuah kampung kecil, kampung dari bekas perkampungan suku Tetun tua dari bekas kerajaan Naitimu. Namun nama kampung yang kecil ini menjadi sangat terkenal di mana-mana. Banyak lembaga pendidikan, kesehatan dan agama telah menggunakan nama ini untuk menyebut tempat lokasi lembaga mereka didirikan. Dan nama Halilulik menjadi terkenal, lebih terkenal atau sama terkenal dengan nama Naitimu.
     Allah sering menggunakan hal-hal yang dianggap orang tidak berguna, dianggap sepeleh, dianggap kecil, miskin atau hina, untuk mendirikan gerejaNya. Halilulik menjadi seperti wadas yang kuat untiuk gereja Allah yang kokoh sepanjang zaman.  Halilulik itu , "..Ibarat batu yang dibuang oleh para pembangun namun merupakan batu penjuru.." Meskipun kecil, tersisih, miskin dan terbuang, namun Halilulik telah menampilkan wajah Kristus bagi seluruh dunia.
     Kristus datang untuk menyelamatkan orang yang terbuang, tersisih, orang yang kecil dan tak berdaya. Dia menjadi pokok keselamatan yang kekal. Kristus sendiri telah menyelamatkan warga Halilulik dan seluruh dunia yang mengimaninya. Kristus telah memanggil keluar warga Halilulik dan dunia untuk menjadi saudara-saudaraNya, orang yang tertebus dan berhak disebut anak-anak Allah, pewaris Rumah Bapa di surga....Halilulik seperti "Batu yang dibuang oleh para pembangun kini telah menjadi batu penjuru". Syukur kepada Allah, semoga semua bangsa di dunia mengakuiNya..


 
KEPUSTAKAAN:
1. Dr. I Ketut Ardhana, Penataan Nusa Tenggara Pada Masa Kolonial 1915-1950(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005)
2. Wikipedia Tentang Timor Barat
3. Http://www. Halilulik.Com.Blogspot.Com
4.Colletta N.J. dan Kayam U., Kebudayaan dan Pembangunan (Jakarta: Obor, 1997)
5. Alkitab Deuterokanonika
6. Wawancara: Ama Tuas Paulus Mau (Suku Asulaho-Umamalae), Kampung Moro-Ahun, 1998-2000
7.  Wawancara :Ama Tua Leki (Suku Asulaho), Kampung Nanerai, 2010
8. Wawancara: Alm. Bapak Mathias Meko, Saksi Sejarah Pemilihan RajaNaitimu di Kampung Buitasik, (Halibaurenes: 1994-1998)                                                        


4 komentar:

  1. Kepada
    Sdra Yopi Besin, melalui koment ini, saya ingin memberitahukan bahwa anda melupakan nama penulisnya yakni saya sendiri. Artikel ini anda coppy dari Situs saya di www.blasmkm.com, tanpa menghubungi saya terlebih dahulu. Pemuatannya sudah bagus, namun anda melupakan penulisan nama Penulisnya, sesuatu yang sangat Vatal. Artikel ini disusun dalam waktu yang lama dan anda telah melakukan sesuatu yang kurang berkenan yakni tidak mencantumkan nama penulisnya. Saya kira semua pembaca tahu bahwa penulisnya adalah Blasius Mengkaka, S.Fil yang dimuat di Situs www.blasmkm.com. Sekali lagi tolong dituliskan nama Penulisnya....

    atau menghubungi saya di 085238438811 dan 081236568220

    Sekian,

    Blasius Mengkaka, S.Fil

    BalasHapus
  2. ma,af sya sudah melakukan kesalahan besar karena tdak mencantumkan nama pengarang,,,,,tpi sya ingin mengharumkan nama kampung halilulik di internet biar semua org bisa mngetahui bagimanasih sejarah halilulik itu,,,,

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    BalasHapus
  4. Hey..Yopi-Besin,
    anda sendiri telah mengakui kesalahan anda.
    Saya sekali lagi menyampaikan teguran resmi atas artikel yang anda tayangkan di blog ini dengan judul: Meneropong Status Kampung Halilulik: Ibu Kota Desa Atau Ibu kota Kecamatan?
    Sebaiknya anda tulis nama pengarangnya di atas sbb: Penulis: Blasius Mengkaka, S.Fil
    Maka masalahnya selesai.
    Silahkan menulis sekarang!

    BalasHapus